Arba’in.
Akal sehat kita, mungkin akan mengatakan, untuk apa berjuta-juta orang rela berjalan kaki
menempuh puluhan kilometer untuk menziarahi masa lalu. Bukan hanya 2-3 juta
manusia, tapi 25 juta manusia. Inilah ‘gathering’ manusia paling akbar di muka
bumi. Tak ada kemewahan dalam Arba’in. Tak ada hotel bintang lima. Tak ada
pendingin udara. Tak ada restoran junkfood. Tak ada selebritas dengan
pengawalan khusus. Sebab mereka sedang menziarahi kepiluan yang paling berduka.
Hanya ada ratapan nestapa memancar dari wajah peziarah. Hanya ada uluran
kebaikan datang dari rumah penduduk yang dilalui para peziarah. Mereka menawarkan
makanan dan minuman gratis sekedarnya. Menawarkan tempat lapang untuk
beristirahat sejenak. Mereka, para penduduk itu, sedang berlomba-lomba dalam
kebaikan. Assalâmu ‘alal Husaynil mazhlûmisy syahîd. Assalâmu ‘alâ asîril
kurabâti wa qatîlil ‘abarât. Salam atas Al-Husein
yang mazhlum dan syahid. Salam atas yang tertawan dalam peristiwa yang paling
berduka dan terbunuh dalam tragedi paling menderita.