Arba’in.
Akal sehat kita, mungkin akan mengatakan, untuk apa berjuta-juta orang rela berjalan kaki
menempuh puluhan kilometer untuk menziarahi masa lalu. Bukan hanya 2-3 juta
manusia, tapi 25 juta manusia. Inilah ‘gathering’ manusia paling akbar di muka
bumi. Tak ada kemewahan dalam Arba’in. Tak ada hotel bintang lima. Tak ada
pendingin udara. Tak ada restoran junkfood. Tak ada selebritas dengan
pengawalan khusus. Sebab mereka sedang menziarahi kepiluan yang paling berduka.
Hanya ada ratapan nestapa memancar dari wajah peziarah. Hanya ada uluran
kebaikan datang dari rumah penduduk yang dilalui para peziarah. Mereka menawarkan
makanan dan minuman gratis sekedarnya. Menawarkan tempat lapang untuk
beristirahat sejenak. Mereka, para penduduk itu, sedang berlomba-lomba dalam
kebaikan. Assalâmu ‘alal Husaynil mazhlûmisy syahîd. Assalâmu ‘alâ asîril
kurabâti wa qatîlil ‘abarât. Salam atas Al-Husein
yang mazhlum dan syahid. Salam atas yang tertawan dalam peristiwa yang paling
berduka dan terbunuh dalam tragedi paling menderita.
Rabu, 25 November 2015
Senin, 19 Oktober 2015
Tentang Labbaika
Pada
dasarnya, labbaika bukan tentang
bagaimana menjawab ‘panggilan’ Tuhan. Labbaika,
sebuah bahasa Arab yang dipakai untuk menyahuti panggilan, biasanya kalau yang
memanggil itu lebih tua atau lebih mulia. Artinya bisa dipakai untuk siapa
saja, seperti kepada orang tua, guru dan bahkan suami-istri dan bahkan teman
yang saling menyintai. Ia adalah jawaban panggilan, seperti saat Anda
dipanggil, ‘hai, bro’, Anda dalam bahasa Arab bisa menjawab: "Labbaik". Jadi, kata-kata ini bukan
hanya untuk di haji saja.
Dalam
sebuah manasik haji, seorang ustadz yang sudah naik haji selama 20 kali
bercerita tentang ‘resep’ bagaimana ia bisa berpuluhkali ke Ka’bah. Rahasianya
ada pada kata labbaik. Dia mengatakan
selalu menyambut panggilan terhadap dirinya dengan kata labbaik. Boleh jadi ini hanya ilmu ‘gothak gathik gathuk’ si ustadz
saja untuk menyemangati puluhan siswa SD yang ikut manasik haji kala itu. Tapi bukankah
masyarakat kita suka cerita-cerita seperti itu?
Berdasar
beberapa alasan itulah, Anda tak perlu ‘alergi’ lagi menggunakan kata labbaik dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih
lagi ‘memusuhi’ orang-orang yang menggunakan kata labbaik untuk mengenang syahidnya Al Husain. Yang menjawab panggilan
Al Husain itu sebenarnya sedang ‘menebus dosa’ mereka sendiri. Mereka tak ada
saat Al Husain menyeru di ujung hidupnya, ‘hal
min naashirin yanshuruniy?’, ‘adakah penolong yang mau menolongku?’, mereka,
manusia yang penuh dosa itu menjawab pilu ‘labbaika
ya husain’, ‘kami selalu bersedia menaati dan memenuhi panggilanmu’.
Tentu
saja tidak hanya berakhir di sini. Labbaika
ya Husain itu bukan sekedar seruan spiritualisme, dia juga merupakan seruan
perlawanan. Seruan itu bukan hanya warisan ruhani masa lalu, tetapi juga
harapan di masa yang akan datang. Komitmen untuk melanjutkan apa yang dilakukan
Al Husain waktu itu: melawan penindasan dan ketidakadilan!
Karenanya,
hari ini, dengan kesadaran sejarah tentang Al Husain ini, sudah seharusnya kita
juga menyeru: labbaika ya salim kancil! labbaika
ya munir!
Minggu, 04 Oktober 2015
Juru Selamat Ahmadiyah itu Sophia Latjuba
Izinkanlah
saya, sebagai syiah (follower) garis
keras-nya Mbak Sophia Latjuba menyampaikan sebuah harapan yang insyaallah akan bermanfaat untuk
keberlangsungan kerukunan beragama di bangsa kita yang menyebalkan ini.
Seperti
yang kita ketahui bersama, menjadi beda di negara Bhinneka Tunggal Ika ini sudah menjadi perkara besar. Jika di
Amerika sana konflik beda adalah perkara warna kulit, di sini, di negeri yang
konon gemah ripah loh jinawi, tata
tentrem kerta raharja ini, perkara beda di lihat dari dalam, dari iman.
Pasti Anda semua tahu, hari ini, dengan mudah darah muncrat dari seorang
manusia hanya karena beda. Dengan mudah kita meluluhlantakkan tempat ibadah
hanya karena beda. Sambil meneriakkan nama Tuhan, kita mengusir manusia dari
rumahnya sendiri karena beda. Mereka menjadi pengungsi di negara mereka sendiri
(Syiah dan Ahmadiyah). Keyakinan akan Tuhan Yang Maha Agung seakan membawa
manusia mempunyai kekuatan lebih dan memberikan ilham untuk menghabisi yang lain.
Ada yang salah dengan para guru agama kita?
Kalau
pun ada beberapa gelintir manusia yang dengan akal sehat dan nuraninya membela
mereka yang beda itu, aneka sebutan sudah siap menanti: antek syiah-lah,
pro-JIL-lah, kafir-lah, sesat-lah, dan lain-lain. Mereka yang suka
menganugerahkan aneka sebutan itu mungkin otak kanannya segede gaban. Ndak rasional blas.
Trus
apa hubungan dengan Mbak Sophia Latjuba?
Begini,
jika ada satu orang yang bisa menyelamatkan ratusan jamaah Ahmadiyah yang menjadi
pengungsi sejak 2006 di Asrama Transito Nusa Tenggara Barat NTB itu bukanlah
Jokowi, bukan menteri agama, bukan saya, bukan Anda, tapi Mbak Sophia Latjuba. Lha
kok bisa? Bisa! Ini bukan tulisan satir lho. Ini kalau dalam ilmu psikologi
disebut bonding, sebuah keterikatan.
Banyak
yang nggak tahu kan tentang siapa sebenarnya seleb favorit saya ini. Kalau
cantik mah absolute-lah. Apalagi kalau sedang ber-vashistasana. Biyuh.
Dalam
darah Mbak Sophie itu mengalir darah Ahmadiyah. Iya, bener. Dari eyangnya. Jadi
nggak perlu histeris kalau Mbak Sophie sekarang jadi muallaf ya. Eyang Mbak
Sophie yang bernama Mahmud Lamako Latjuba ini merupakan pendiri GAI atau
Gerakan Ahmadiyah Indonesia pada 1928. Terkejut?
Kata
Mbak Sophie, Eyang Mahmud Lamako Latjuba lahir 2 Mei 1909 di Una-una, Sulawesi
Tengah. Beliau meninggal 7 Desember 1975 di Jakarta. Beliau adalah anak
keturunan Arab bermukim di nusantara sejak lama. Sejak muda meninggalkan
kampung halaman untuk menuntut ilmu di
Yogyakarta. Mula pertama datang ke Yogyakarta, beliau tinggal di di rumah
H.O.S. Tjokroaminoto. Nah, pada 28 Desember 1928 beliau mendirikan De Ahmadiyya Beweging, yang di tahun
1930 resmi bernama Gerakan Ahmadiyah Indonesia Centrum Lahore. Nah, mulai
terang kan benang merahnya kenapa Mbak Sophie bisa membantu para pengungsi
Ahmadiyah.
Ndak
itu saja, Sob. Eyang Mbak Sophie juga salah satu pendiri Partai Masyumi. Yang
paling cetar membahana adalah beliau diangkat menjadi Duta Besar RI pertama
untuk Pakistan, Mesir dan Iran tahun 1952 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno
dan Ahmad Soebardjo, Menteri Luar Negeri. Beliau juga menerjemahkan The Holy
Qur’an karya Maulana Muhammad Ali lho.
Dengan
silsilah yang nggak disangka-sangka seperti itu, bukankah kita boleh berharap,
Mbak Sophie mau meluangkan pikiran dan tenaga untuk membantu para pengungsi
Ahmadiyah untuk kembali pulang ke rumah mereka kembali. Apalagi Mbak Sophie
mempunyai bonding yang kuat dengan
mereka.
Plis,
Mbak Sophie, sebagai syiah-mu, saya sudah menganggap Mbak Sophie itu lawlaka, lawlaka, ma khalaqtu al-aflaka,
jika bukan karena engkau, jika bukan karena engkau, Aku tidak akan menciptakan
alam semesta ini, sudilah kiranya, minimal mengunjungi mereka para pengungsi
Ahmadiyah itu. Saya haqqul yaqin,
kedatangan Mbak Sophie akan membuat alam langit bergetar dan kemudian Tuhan
bersedia mengubah takdir mereka yang terusir dari rumahnya sendiri itu.
Kamis, 17 September 2015
Tentang Buku dan Rasa Kehilangan
Kisah seorang
pemburu buku yang kemudian melepas buku-buku yang diburunya.
Dua
kardus penuh buku sudah terbungkus rapi. Keesokan hari buku-buku yang ada dalam
kardus ini akan berpindah tangan. Saya sudah berjanji dengan sebuah
perpustakaan yang berkantor di area Mega Kuningan, Jakarta untuk menyerahkan
dua kardus ini. Ini bukan hibah, tapi perpustakaan milik seorang petinggi
partai bersedia membayar buku-buku yang saya tawarkan via seorang teman yang
aktif sebagai politisi partai tersebut.
Dada
terasa sesak mengingat hari itu. Mata sembab memandangi rak buku yang mulai
kosong. Satu per satu, buku yang saya kumpulkan bertahun-tahun itu akan
memiliki ‘tuan’ yang baru. Ratusan buku ini sempat membuat saya ‘nampang’ di
dua buah koran nasional sebagai kolektor buku-buku kiri yang langka. Dua kardus
ini hanya rangkaian dari proses kehilangan ratusan buku-buku langka itu.
Sebelumnya, sudah beberapa kolektor menghubungi saya secara khusus untuk
melepas beberapa judul buku kiri langka yang mereka tidak punya.
**
Namanya
Pieters Siahaan. Usianya sekitar 50 tahunan saya kira. Di sebuah siang yang
terik, waktu saya iseng main ke loakan buku Terminal Bus Senen menyalami saya
dan kemudian menawarkan beberapa buku tua. Seingat saya, dia menawarkan
buku-buku Bung Karno. Salah satunya berjudul Bung Karno Di hadapan Pengadilan
Kolonial karya H.A. Notosoetardjo, terbitan tahun 1963. Waktu itu saya jawab,
saya tidak terlalu suka dengan Bung Karno. “Saya mencari buku-buku Pramoedya
Anantar Toer, Bang.”
Mendengar
pertanyaan itu, Bang Siahaan –sapaan akrab saya kepada dia- kemudian mengajak
ke kiosnya yang terletak agak masuk ke area pasar. Melewati lorong-lorong
sempit yang terkadang terlihat juga gerombolan tikus segede anak kucing
berlarian, berjejer beberapa kios buku yang menjual aneka jenis buku, dari buku
yasinan hingga buku-buku pelajaran. Saya juga menjumpai distributor sebuah
jenis komik yang bikin merinding waktu saya baca saat sekolah dasar dulu, yaitu
komik surga neraka. Komik yang memuat gambar-gambar sadis tentang hukuman
orang-orang yang berada di neraka. Komik ini penanda, bahwa sampai hari ini,
agama masih diajarkan dengan ketakutan-ketakutan di negeri ini.
Di
kios Bang Siahaan yang berukuran 1,5 x 2,5 m ini saya menemukan buku Boris
Pasternak yang berjudul Safe Conduct. Bukunya tampak lusuh. Bahkan di pojok
bawah sudah grepes dimakan tikus. Tapi waktu saya buka halaman pertamanya,
ternyata dalam buku terbitan The New American Library tersebut, terdapat
tulisan serta tanda tangan Soe Hok Gie dengan tinta biru yang mulai memudar: Djakarta 29 Nopember 1960. Soe Hok Gie.
Ditukar dng (dengan) kartjis sandiwara dari Irawan. Tangan saya agak
gemetar memegang buku itu. Soe Hok Gie adalah salah satu tokoh kesukaan saya.
Buku-bukunya juga lengkap saya koleksi. Dan sekarang saya melihat buku yang
pernah dipegang langsung sama dia. Buru-buru saya tebus buku itu ke Bang
Siahaan. “25 ribu saja,” kata Bang Siahaan yang saya sambut dengan suka cita.
Bang
Siahaan ini mungkin satu-satunya pedagang buku di Terminal Senen yang paham tentang
buku-buku yang dijualnya. Mungkin karena dia bekas seorang pendeta, jadi dia
juga gemar membaca. Terutama sastra.
**
Sampai
sekarang, saya belum pernah ketemu dengan pria ini. Saya hanya mengenal namanya
sebagai salah satu penjual online di media sosial. Marsum namanya. Tinggal di
Tangerang. Dari dia juga saya dapat banyak buku-buku tua. Dua yang paling
fenomenal adalah buku Sosialisme Indonesia karya D.N Aidit dan buku Bung Hatta-
Mengabdi pada Tjita-tdjita dan Perdjoangan Bangsa. Dua buku tersebut ada tanda
tangan D.N Aidit dan Bung Hatta. Dua buku itu saya tebus 4,5 juta waktu itu.
**
Tentang
rasa ‘gila buku’, saya pernah mengalaminya. Laku dalam gila buku tentu saja
berbeda dengan laku ketika kita hanya haus pengetahuan –penuh rasionalitas,
produktivitas, dan efisiensi-. Orang yang haus pengetahuan akan mengatakan,
buku itu untuk dibaca, bukan ditimbun. Menurut saya, laku penggila buku adalah
sebuah dolan. Sebuah kehendak untuk
bermain. Berjalan di jalan yang berkelok-kelok dan sambung menyambung. Tempat
kita iseng, main-main, atau mengikuti rasa ingin tahu. Menyusuri laku gila buku
tidak dituntut untuk menghasilkan apa-apa, tanpa didesak waktu, tapi asyik
mengamat-amati seraya terus-menerus mengalihkan fokus.
Tentang
orang-orang yang bisa disebut sebagai ‘penggila buku’, banyak kisah dan
adegan-adegan yang tak baru. Lazimnya, mereka akan bercerita, bahwa rasa cinta
berlebihan kepada buku akibat bersinggungan dengan buku sejak masih kecil.
Terutama karena para orang tua dan kakek nenek mereka juga seorang penggila
buku. Saya tak seberuntung mereka yang mewarisi ‘gen’ sekaligus buku-buku dari
para orang tua dan kakek neneknya.
Waktu
saya kecil, tak ada buku di rumah (di luar buku-buku pelajaran sekolah). Hanya
ada potongan-potongan kain yang siap dijahit Ibu dan perkakas-perkakas rumah
tangga yang siap dijajakan Bapak keliling kampung. Ibu dan Bapak yang hanya
lulusan sekolah dasar, mungkin merasa, buku adalah sesuatu yang asing. Tapi
kondisi itu berubah ketika Ibu bekerja sebagai penjahit di sebuah konveksi
milik seorang dosen yang memiliki persewaan komik. Saat itu saya duduk kelas 5
SD. Akhirnya tiap akhir pekan, saya mempunyai kemewahan untuk membaca komik.
Hingga
puluhan tahun kemudian, saya menjadi ‘penggila buku’. Menimbun ribuan buku
hanya untuk klangenan. Ceritanya
dimulai saat saya mulai kuliah di Kota Malang. Tahun 1996, setahun sebelum Orde
Baru jatuh, saya sempat datang ke sebuah pameran buku di kampus. Saya melihat 4
buku bercover putih dengan hanya judul dan nama pengarangnya saja sebagai
hiasan sampul. Saya tidak tahu nama pengarang itu. 4 buku tersebut dijual 100
ribu. Untuk menebusnya, saya terpaksa menjual sepeda gunung . Saya tak bisa
berhenti membaca 4 buku itu. Dalam waktu beberapa hari, 4 buku itu saya sudah
selesaikan. Saya semakin bertanya-tanya, siapa itu Pramoedya Ananta Toer?
Bagaimana dia bisa menulis tetralogi buku Pulau Buru dengan sangat bagus? Ya, agak telat. Saya baru tahu nama Pramoedya
Ananta Toer waktu kuliah.
**
Saya
tak begitu ingat harinya, tapi kejadiannya sudah dua tahun yang lalu. Sebuah
SMS masuk ke telepon genggam saya, dari Bulik di Solo. Isinya singkat, “Ri,
mantuk-o, bapakmu gerah (Pulanglah, Bapakmu sakit).”
Kabar
sakitnya Bapak yang datang dari Bulik, bukan dari Ibu saya ini menjadikan saya
curiga, apakah sakitnya Bapak serius hingga Ibu saya tak kuasa memberi kabar
sendiri. Saya memang tidak terlalu akrab dengan Bapak. Tak ada yang banyak bisa
saya ceritakan. Yang saya tahu, Bapak saya cuma tekun dengan pekerjaannya
sebagai mendring, sebutan tukang
kredit keliling di Solo. Meski jarang ngobrol, melihat Bapak terkulai lemas
dengan vonis gagal ginjal di rumah sakit Jebres, hati saya luluh lantak juga.
Seminggu sekali Bapak harus cuci darah. Butuh biaya yang tidak sedikit, pikir
saya seketika.
**
Dua
kardus buku yang saya janjikan ke sebuah perpustakaan milik salah seorang
petinggi partai itu saya bawa sendiri naik taksi ke Mega Kuningan, Jakarta. Ini
buku-buku terakhir yang saya miliki. Berisi ratusan buku karya Pramoedya Ananta
Toer, dari cetakan pertama hingga yang terbaru. Sebelumnya, puluhan buku lawas
karya D.N Aidit, Njoto, dan Tan Malaka sudah saya lepas ke beberapa kolektor.
Dari melepas buku-buku langka yang saya buru bertahun-tahun itu, saya
mendapatkan 20 jutaan rupiah. Bukan harga terbaik, tetapi saya pikir cukup
untuk merawat Bapak.
**
Dua
tahun sudah Bapak pergi. Saya bahagia bisa merawatnya di ujung akhir hidupnya
di dunia dengan buku-buku yang saya miliki. Pada akhirnya, di ujung jalan, kita
akan tahu, tiap apa yang kita kehendakkan selalu serba mungkin, labil, dan
rentan. Tiap semua hal yang kita kerjakan senantiasa bersifat coba-coba; tak
ada yang untuk selama-lamanya. Dari peristiwa ini, saya belajar untuk tidak
menggilai yang fana. Tapi ternyata susah sekali. Rak buku saya yang sempat kosong
beberapa bulan, kini, mulai penuh lagi. Tapi tidak dengan
buku-buku kiri. Saya mulai menimbun buku-buku sufi.
Rabu, 16 September 2015
Kesatuan Kreatif Ala Rabindranath Tagore
berpikir kreatif mengijinkan analogi bebas, sekalipun nampak tidak berhubungan. kesamaannya berada pada makna simbolisnya. maka ada istilah "terinspirasi", yang bekerja di wilayah yang tak tampak. aku menyebutnya, rububiyah.
pada titik ini, tagore adalah seorang yang menginspirasi sekaligus sebagai yang terinspirasi dari yang Satu, yang Tak Terhingga. golak pemikiran tagore berangkat dari kemanusiaan yang paling dasar. ya. tagore, saya kira, adalah seorang humanis. yang menempatkan keseimbangan di atas carut marut dunia fana. tengok ini:
kebenaran dari kehidupan kita tergantung sikap pikiran kita kepadanya -suatu sikap yang dibentuk oleh kebiasaan kita berhubungan dengannya menurut keadaan khas lingkungan-lingkungan kita dan perangai-perangai kita.
lihat. betapa tagore sungguh santun menempatkan kebenaran menjadi sebuah sintesis dari tesis. entah. keseimbangan apa yang diharapkan tagore dalam hidup ini. apakah tagore juga penganut paham wahdatul wujud? dalam setiap tulisannya, tagore sering sekali merujuk pada Yang Tak Terbatas. bahkan tagore ingin menyatukan Yang Tak Terbatas ini dengan diri. dengan demikian sebuah kesatuan menjadi kreatif.
saya jadi ingat al hallaj yang lantang berkata, ana 'l hakk. akulah kenyataan tertinggi. bedanya, tagore ingin mengupayakan Ketunggalan yang mawujud dalam dunia nyata. dia mencoba menegasikan sebuah ayat misterius, surat 28:28: kullu sai'in halikun illa waghahu" (segala sesuatu sirna kecuali wajahNya). keanekaan dunia, bagi tagore, nampak hanya semu saja. bila kita menyelami dan menerobos kulit itu, maka selebung semu itu menjadi kabur lalu tampaklah dasar hakiki yang menopang segala sesuatu yang ada. tampaklah bahwa Yang Tak Terhingga dan manusia itu identik sama. dengan kata lain, tagore ingin menjadikan yang mistis itu menjadi rasional. menjadi kreatif. kesatuan kreatif.
membaca Tagore, kita akan menemukan bahwa dalam Yang Tak Terhingga, kehidupan menjangkau dan melebur segala pertentangan. itulah arti siang menjadi malam dan sebagainya. siang dapat menjadi malam karena ada dasar yang sama. sedangkan siang dan malam hanya merupakan penampakan pada kulit. tagore menegaskan, barangsiapa mengetahui itu, dia sudah menemukan hidup yang tunggal dan Ada yang tunggal di bawah segala keanekaan. konsep ini dalam budaya jawa, dikenal dengan sebutan "jalma luwih", manusia sempurna, ubermensch.
jalma luwih sajati ning manungsweki / kang ampun tumekeng urip / urip ing Allah tangala / uripe datullah yekti / uripe jeneng ing suksma.
ia telah mencapai kehidupan, yaitu kehidupan Tuhan sendiri. yang hidupnya adalah dzat Tuhan sendiri. yang hidupnya ialah suksma lepas dari unsur kebendaan.
jadi, apa yang ingin disampaikan tagore adalah yang ada bukan badan jasmani yang dihidupi oleh jiwa sebagai prinsip kehidupan otonom. melainkan suatu badan rohani yang dihidupi oleh kehidupan ilahi yang meresapi jiwa-jiwa seluruhnya. orang barat menyebutnya spiritualism. tagore menyebutnya kesatuan kreatif. saya menyebutnya rububiyah.
selamat menikmati kebijaksanaan tertinggi ala tagore.
pada titik ini, tagore adalah seorang yang menginspirasi sekaligus sebagai yang terinspirasi dari yang Satu, yang Tak Terhingga. golak pemikiran tagore berangkat dari kemanusiaan yang paling dasar. ya. tagore, saya kira, adalah seorang humanis. yang menempatkan keseimbangan di atas carut marut dunia fana. tengok ini:
kebenaran dari kehidupan kita tergantung sikap pikiran kita kepadanya -suatu sikap yang dibentuk oleh kebiasaan kita berhubungan dengannya menurut keadaan khas lingkungan-lingkungan kita dan perangai-perangai kita.
lihat. betapa tagore sungguh santun menempatkan kebenaran menjadi sebuah sintesis dari tesis. entah. keseimbangan apa yang diharapkan tagore dalam hidup ini. apakah tagore juga penganut paham wahdatul wujud? dalam setiap tulisannya, tagore sering sekali merujuk pada Yang Tak Terbatas. bahkan tagore ingin menyatukan Yang Tak Terbatas ini dengan diri. dengan demikian sebuah kesatuan menjadi kreatif.
saya jadi ingat al hallaj yang lantang berkata, ana 'l hakk. akulah kenyataan tertinggi. bedanya, tagore ingin mengupayakan Ketunggalan yang mawujud dalam dunia nyata. dia mencoba menegasikan sebuah ayat misterius, surat 28:28: kullu sai'in halikun illa waghahu" (segala sesuatu sirna kecuali wajahNya). keanekaan dunia, bagi tagore, nampak hanya semu saja. bila kita menyelami dan menerobos kulit itu, maka selebung semu itu menjadi kabur lalu tampaklah dasar hakiki yang menopang segala sesuatu yang ada. tampaklah bahwa Yang Tak Terhingga dan manusia itu identik sama. dengan kata lain, tagore ingin menjadikan yang mistis itu menjadi rasional. menjadi kreatif. kesatuan kreatif.
membaca Tagore, kita akan menemukan bahwa dalam Yang Tak Terhingga, kehidupan menjangkau dan melebur segala pertentangan. itulah arti siang menjadi malam dan sebagainya. siang dapat menjadi malam karena ada dasar yang sama. sedangkan siang dan malam hanya merupakan penampakan pada kulit. tagore menegaskan, barangsiapa mengetahui itu, dia sudah menemukan hidup yang tunggal dan Ada yang tunggal di bawah segala keanekaan. konsep ini dalam budaya jawa, dikenal dengan sebutan "jalma luwih", manusia sempurna, ubermensch.
jalma luwih sajati ning manungsweki / kang ampun tumekeng urip / urip ing Allah tangala / uripe datullah yekti / uripe jeneng ing suksma.
ia telah mencapai kehidupan, yaitu kehidupan Tuhan sendiri. yang hidupnya adalah dzat Tuhan sendiri. yang hidupnya ialah suksma lepas dari unsur kebendaan.
jadi, apa yang ingin disampaikan tagore adalah yang ada bukan badan jasmani yang dihidupi oleh jiwa sebagai prinsip kehidupan otonom. melainkan suatu badan rohani yang dihidupi oleh kehidupan ilahi yang meresapi jiwa-jiwa seluruhnya. orang barat menyebutnya spiritualism. tagore menyebutnya kesatuan kreatif. saya menyebutnya rububiyah.
selamat menikmati kebijaksanaan tertinggi ala tagore.
Kamis, 10 September 2015
Islam Nusantara (2)
Saya membayangkan, nantinya Islam Nusantara akan berkembang
seperti Islam Syiah di Iran. Kita bisa melihat, Islam Syiah di Iran menjadi
kekuatan yang fenomenal. Tidak hanya secara teologi tetapi juga menjangkau di
semua bidang.
Islam Nusantara
sudah seharusnya menghasilkan tradisi intelektual yang berkembang terus
menerus. Islam Nusantara di abad ke-17 hingga ke-19 menghasilkan ulama
pengarang yang sanggup menulis bukan saja dalam bahasa Melayu, melainkan juga
dalam bahasa Arab dan Farsi, seperti Syaikh Hamzah Fansuri, Syaikh Syamsuddin
Sumatrani, Syaikh Nuruddin Ar Raniri, Syaikh Burhanuddin, Syaikh Ismail bin
Abdullah Al Asyi, Syaikh Jalaluddin bin Syaikh Arif Billah, Syaikh Muhammad bin
Syaikh Khatib Langien, Syaikh Jamaluddin bin Syaikh Abdullah, Syaikh Nawawi Al
Bantani, Syaikh Mahfudh Al Tarmidzi, dan lain-lain.
Sayang sekali,
keberhasilan mereka tidak dilanjutkan di zaman ini. Sulit sekali sekarang
menemukan kyai di Indonesia yang mau menulis karya ilmiah yang benar-benar serius
seperti para pendahulunya itu. Mereka lebih tertarik dakwah secara lisan dan
verbal daripada dakwah melalui tulisan, dan dalam banyak kasus lebih runyam
lagi, mereka tertarik dalam dunia politik yang hitam. Para kyai lebih akrab
dengan pejabat daripada kitab-kitab. Para kyai lebih giat dalam persoalan
dukung mendukung calon bupati, gubernur, hingga presiden daripada melakukan
perenungan secara mendalam.
Pada masa modern
ini, kita sulit sekali menemukan seorang ulama sekaligus filosof dari Islam
Nusantara, tetapi di kalangan Syiah pada abad ke-20 yang lalu telah melahirkan
puluhan ulama sekaligus filosof, baik yang telah meninggal seperti Thabathaba’I
dan Murtadha Muthahhari maupun yang masih hidup seperti Jalal Al Din Asythiyani
dan Mehdi Hairi Yazdi, yang telah merespon tantangan filosof dan ideologis
Barat dengan efektif.
Islam Nusantara
sudah seharusnya menghasilkan dunia pendidikan yang maju. Dulu Mesir dikenal
sebagai tempat pendidikan Islam paling maju, tapi kini Mesir luluh lantak
karena konflik. Mesir hanya menang secara historis, tetapi kualitas sebenarnya
terkalahkan Iran. Perpustakaan di Iran dimanfaatkan secara fungsional untuk
pengembangan ilmu. Bahkan, perpustakaan masjid saja telah dijadikan kajian yang
sangat serius. Hal ini sangat berbeda dengan perpustakaan masjid di Indonesia
yang tidak lebih dari sekedar pajangan literatur.
Islam Nusantara
sudah sewajibnya berbanding lurus dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Masyarakat Iran dengan Islam Syiah-nya telah menunjukkan kedigdayaan
teknologi. Meski dapat embargo dari dunia internasional, mereka mempunyai
Jamaran, kapal perang buatan putra Iran sendiri. Iran telah berhasil
menciptakan sendiri pesawat tempur yang diberi nama Azarakhsh, pesawat pemburu
canggih bernama Saeqeh.
Mereka mempunyai rudal Shahab,
peluru kendali Fajr, Kowsar, dan Fateh.
Potensi ini menunjukkan bahwa Irang memiliki kekuaran pertahanan yang tangguh
sekali. Tak heran, dunia barat dibuat ketar-ketir karenanya.
Pada bagian lain,
Iran juga berhasil menciptakan dan mengembangkan teknologi antariksa, otomotif,
dan kedokteran. Iran mempunyai stasiun peluncuran antariksa dan peluncuran
roket pembawa satelit Safir.
Produk otomotif Iran telah diekspor ke berbagai negara. Iran juga telah
menciptakan dan mengembangkan teknologi nano untuk keperluan kedokteran,
pertanian, industr, dan lain-lain. Lagi pula, Iran telah berhasil mengembangkan
teknologi di bidang Stem Cell untuk menyembuhkan beragam penyakit
akut. Iran juga berhasil membuat obat IMOD untuk fungsi ketahanan tubuh melawan
virus HIV AIDS.
Hanya saja, Iran sedang dikepung oleh negara-negara maju dan
sekutunya dengan melakukan provokasi dan membangun citra untuk menjatuhkan
reputasi Iran dengan berbagai alasan yang direkayasa.
Akhirnya, apa yang telah dihasilkan Islam Nusantara di republik
ini? Apa mau dikata, kita masih sibuk berdebat tentang pelaksanaan shalat Idul
Fitri, tentang tahlilan, yasinan, dan kirim Al Fatiha kepada yang telah mati.
Ya, kita masih sibuk memperdebatkan maulid Nabi dan pembacaan shalawat. Dan
sementara sebagian yang lain malah siap-siap meng-impor konflik
intoleransi.
Islam Nusantara (1)
Mohamed Arkoun, seorang pemikir Islam dari Aljazair yang berkarir di Perancis, dalam bukunya ‘Nalar Islami dan Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan Jalan Baru’ terbitan INIS, 1994, memberikan testimoni tentang Islam yang hidup di Indonesia, “Saya dapat mengukur selama kunjungan singkat saya ke Yogyakarta pada 1990, betapa kayanya dari segi budaya dan betapa aslinya Islam di Indonesia dibanding dengan Islam Arab.”
Tentu, testimoni ini tidak bermaksud untuk membuat definisi baru tentang Islam. Karena, seperti kita yakini bersama, Islam sesungguhnya hanya satu, tetapi penampilannya bisa bermacam-macam dan mencerminkan karakter-karakter tertentu. Jika akhir-akhir ini ada yang menyerukan tentang Islam Nusantara, saya yakin yang dimaksud adalah Islam yang satu itu, hanya kemudian telah dikemas secara kreatif yang dipadu dengan tradisi sehingga menunjukkan daya kreativitas, seperti adanya peringatan Maulid Nabi Saw, halal bi halal, ketupat, beduk, tahlilan, yasinan, istighatsah, manaqib, tawasul, pembacaan dhiba’, pembacaan barjanji, pembacaan usholli sebelum shalat, pembacaan sayyidina dalam shalat dan khotbah, pembacaan qunut pada shalat Subuh, pembacaan talqin pada jenazah yang baru saja dikubur, selamatan atas kematian seseorang, haul, pakaian sarung dan songkok saat beribadah, dan masih banyak lagi lainnya.
Penampilan-penampilan Islam demikian inilah yang mengundang tuduhan dari beberapa kelompok, khususnya Wahabi, bahwa Islam Nusantara adalah Islam sinkretisme, Islam yang bercampur dengan paham agama lain, Islam yang tidak murni atau Islam yang ternoda. Mereka berpandangan bahwa tidak boleh ada pengurangan maupun penambahan dalam beribadah (la nuqshan wala ziyadah fi al ibadah). Dalam masalah ibadah, kita hanya menerima satu paket dari Allah melalui Nabi. Karena itu, mereka menganggap bahwa banyak unsur takhayul, bid’ah, dan khurafat serta syirik di kalangan Islam Nusantara.
Perlu dipahami, penampilan Islam Nusantara yang penuh warna tradisi ini tidak akan mengubah Islam, tetapi menerjemahkan Islam dalam bahasa kebudayaan Indonesia. Suatu bahasa yang mengakrabkan ajaran-ajaran agama dengan masyarakat kelas bawah, sebagai lapisan yang selama ini dibela Islam itu sendiri sebagaimana digagas oleh Hassan Hanafi melalui gerakan Kiri Islam (Al Yasar Al Islami).
Kebiasaan mentransformasikan ajaran Islam ke dalam konteks budaya Indonesia menjadikan Islam Nusantara kaya pemahaman, pemaknaan, penafsiran, dan penampilan. Hal ini sangat berbeda dengan Islam Arab Saudi yang sangat rigid terhadap tradisi, budaya, maupun perkembangan zaman. Sebaliknya, Islam Nusantara justru menjadi Islam yang luwes dan fleksibel, baik terhadap tradisi, budaya, maupun perkembangan zaman, sepanjang hal-hal tersebut tidak mengancam dan merusak substansi Islam itu sendiri, lalu dibutuhkan filter dalam bersikap akomodatif dan selektif.
Pada bagian lain, kebiasaan tersebut sekaligus melatih umat Islam Indonesia menjadi masyarakat yang terbuka terhadap pemikiran dari luar komunitas maupun mazhab-nya. Arkoun menilai bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia kontemporer lebih dapat menerima pemikiran islami yang kritis, pembaharu, dan berkembang dibanding dengan banyak masyarakat Islam lainnya (Timur Tengah) yang terlalu didominasi oleh desakan perjuangan politik. Sementara itu, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang dibangun berdasarkan pendekatan budaya (cultural approach) sehingga sejak awal mencerminkan sikap inklusif.
Inklusivisme sikap bangsa Indonesia terhadap arus dari luar inilah yang memberikan kemungkinan potensi masyarakat Indonesia untuk bersikap demokratis. Mereka terbiasa dihadapkan pada berbagai aliran, mazhab, maupun pemikiran sehingga dapat memupuk integritas kepribadian mereka menjadi kepribadian yang demokratis. Fazlur Rahman menegaskan, “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berwatak demokratis. Karena itu, hanya penafsiran Islam yang betul-betul demokratis-lah yang akan berhasil di sana.”
Apa yang ditegaskan Fazlur Rahman menjadi sebuah harapan bagi masa depan Islam Nusantara, sekaligus kabar buruk bagi kelompok-kelompok yang ingin meng-impor konflik sektarian di negara ini.
Langganan:
Komentar (Atom)