Senin, 19 Oktober 2015

Tentang Labbaika

Pada dasarnya, labbaika bukan tentang bagaimana menjawab ‘panggilan’ Tuhan. Labbaika, sebuah bahasa Arab yang dipakai untuk menyahuti panggilan, biasanya kalau yang memanggil itu lebih tua atau lebih mulia. Artinya bisa dipakai untuk siapa saja, seperti kepada orang tua, guru dan bahkan suami-istri dan bahkan teman yang saling menyintai. Ia adalah jawaban panggilan, seperti saat Anda dipanggil, ‘hai, bro’, Anda dalam bahasa Arab bisa menjawab: "Labbaik". Jadi, kata-kata ini bukan hanya untuk di haji saja.

Dalam sebuah manasik haji, seorang ustadz yang sudah naik haji selama 20 kali bercerita tentang ‘resep’ bagaimana ia bisa berpuluhkali ke Ka’bah. Rahasianya ada pada kata labbaik. Dia mengatakan selalu menyambut panggilan terhadap dirinya dengan kata labbaik. Boleh jadi ini hanya ilmu ‘gothak gathik gathuk’ si ustadz saja untuk menyemangati puluhan siswa SD yang ikut manasik haji kala itu. Tapi bukankah masyarakat kita suka cerita-cerita seperti itu?

Berdasar beberapa alasan itulah, Anda tak perlu ‘alergi’ lagi menggunakan kata labbaik dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih lagi ‘memusuhi’ orang-orang yang menggunakan kata labbaik untuk mengenang syahidnya Al Husain. Yang menjawab panggilan Al Husain itu sebenarnya sedang ‘menebus dosa’ mereka sendiri. Mereka tak ada saat Al Husain menyeru di ujung hidupnya, ‘hal min naashirin yanshuruniy?’, ‘adakah penolong yang mau menolongku?’, mereka, manusia yang penuh dosa itu menjawab pilu ‘labbaika ya husain’, ‘kami selalu bersedia menaati dan memenuhi panggilanmu’.

Tentu saja tidak hanya berakhir di sini. Labbaika ya Husain itu bukan sekedar seruan spiritualisme, dia juga merupakan seruan perlawanan. Seruan itu bukan hanya warisan ruhani masa lalu, tetapi juga harapan di masa yang akan datang. Komitmen untuk melanjutkan apa yang dilakukan Al Husain waktu itu: melawan penindasan dan ketidakadilan!


Karenanya, hari ini, dengan kesadaran sejarah tentang Al Husain ini, sudah seharusnya kita juga menyeru: labbaika ya salim kancil! labbaika ya munir!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar