Izinkanlah
saya, sebagai syiah (follower) garis
keras-nya Mbak Sophia Latjuba menyampaikan sebuah harapan yang insyaallah akan bermanfaat untuk
keberlangsungan kerukunan beragama di bangsa kita yang menyebalkan ini.
Seperti
yang kita ketahui bersama, menjadi beda di negara Bhinneka Tunggal Ika ini sudah menjadi perkara besar. Jika di
Amerika sana konflik beda adalah perkara warna kulit, di sini, di negeri yang
konon gemah ripah loh jinawi, tata
tentrem kerta raharja ini, perkara beda di lihat dari dalam, dari iman.
Pasti Anda semua tahu, hari ini, dengan mudah darah muncrat dari seorang
manusia hanya karena beda. Dengan mudah kita meluluhlantakkan tempat ibadah
hanya karena beda. Sambil meneriakkan nama Tuhan, kita mengusir manusia dari
rumahnya sendiri karena beda. Mereka menjadi pengungsi di negara mereka sendiri
(Syiah dan Ahmadiyah). Keyakinan akan Tuhan Yang Maha Agung seakan membawa
manusia mempunyai kekuatan lebih dan memberikan ilham untuk menghabisi yang lain.
Ada yang salah dengan para guru agama kita?
Kalau
pun ada beberapa gelintir manusia yang dengan akal sehat dan nuraninya membela
mereka yang beda itu, aneka sebutan sudah siap menanti: antek syiah-lah,
pro-JIL-lah, kafir-lah, sesat-lah, dan lain-lain. Mereka yang suka
menganugerahkan aneka sebutan itu mungkin otak kanannya segede gaban. Ndak rasional blas.
Trus
apa hubungan dengan Mbak Sophia Latjuba?
Begini,
jika ada satu orang yang bisa menyelamatkan ratusan jamaah Ahmadiyah yang menjadi
pengungsi sejak 2006 di Asrama Transito Nusa Tenggara Barat NTB itu bukanlah
Jokowi, bukan menteri agama, bukan saya, bukan Anda, tapi Mbak Sophia Latjuba. Lha
kok bisa? Bisa! Ini bukan tulisan satir lho. Ini kalau dalam ilmu psikologi
disebut bonding, sebuah keterikatan.
Banyak
yang nggak tahu kan tentang siapa sebenarnya seleb favorit saya ini. Kalau
cantik mah absolute-lah. Apalagi kalau sedang ber-vashistasana. Biyuh.
Dalam
darah Mbak Sophie itu mengalir darah Ahmadiyah. Iya, bener. Dari eyangnya. Jadi
nggak perlu histeris kalau Mbak Sophie sekarang jadi muallaf ya. Eyang Mbak
Sophie yang bernama Mahmud Lamako Latjuba ini merupakan pendiri GAI atau
Gerakan Ahmadiyah Indonesia pada 1928. Terkejut?
Kata
Mbak Sophie, Eyang Mahmud Lamako Latjuba lahir 2 Mei 1909 di Una-una, Sulawesi
Tengah. Beliau meninggal 7 Desember 1975 di Jakarta. Beliau adalah anak
keturunan Arab bermukim di nusantara sejak lama. Sejak muda meninggalkan
kampung halaman untuk menuntut ilmu di
Yogyakarta. Mula pertama datang ke Yogyakarta, beliau tinggal di di rumah
H.O.S. Tjokroaminoto. Nah, pada 28 Desember 1928 beliau mendirikan De Ahmadiyya Beweging, yang di tahun
1930 resmi bernama Gerakan Ahmadiyah Indonesia Centrum Lahore. Nah, mulai
terang kan benang merahnya kenapa Mbak Sophie bisa membantu para pengungsi
Ahmadiyah.
Ndak
itu saja, Sob. Eyang Mbak Sophie juga salah satu pendiri Partai Masyumi. Yang
paling cetar membahana adalah beliau diangkat menjadi Duta Besar RI pertama
untuk Pakistan, Mesir dan Iran tahun 1952 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno
dan Ahmad Soebardjo, Menteri Luar Negeri. Beliau juga menerjemahkan The Holy
Qur’an karya Maulana Muhammad Ali lho.
Dengan
silsilah yang nggak disangka-sangka seperti itu, bukankah kita boleh berharap,
Mbak Sophie mau meluangkan pikiran dan tenaga untuk membantu para pengungsi
Ahmadiyah untuk kembali pulang ke rumah mereka kembali. Apalagi Mbak Sophie
mempunyai bonding yang kuat dengan
mereka.
Plis,
Mbak Sophie, sebagai syiah-mu, saya sudah menganggap Mbak Sophie itu lawlaka, lawlaka, ma khalaqtu al-aflaka,
jika bukan karena engkau, jika bukan karena engkau, Aku tidak akan menciptakan
alam semesta ini, sudilah kiranya, minimal mengunjungi mereka para pengungsi
Ahmadiyah itu. Saya haqqul yaqin,
kedatangan Mbak Sophie akan membuat alam langit bergetar dan kemudian Tuhan
bersedia mengubah takdir mereka yang terusir dari rumahnya sendiri itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar