Pada
dasarnya, labbaika bukan tentang
bagaimana menjawab ‘panggilan’ Tuhan. Labbaika,
sebuah bahasa Arab yang dipakai untuk menyahuti panggilan, biasanya kalau yang
memanggil itu lebih tua atau lebih mulia. Artinya bisa dipakai untuk siapa
saja, seperti kepada orang tua, guru dan bahkan suami-istri dan bahkan teman
yang saling menyintai. Ia adalah jawaban panggilan, seperti saat Anda
dipanggil, ‘hai, bro’, Anda dalam bahasa Arab bisa menjawab: "Labbaik". Jadi, kata-kata ini bukan
hanya untuk di haji saja.
Dalam
sebuah manasik haji, seorang ustadz yang sudah naik haji selama 20 kali
bercerita tentang ‘resep’ bagaimana ia bisa berpuluhkali ke Ka’bah. Rahasianya
ada pada kata labbaik. Dia mengatakan
selalu menyambut panggilan terhadap dirinya dengan kata labbaik. Boleh jadi ini hanya ilmu ‘gothak gathik gathuk’ si ustadz
saja untuk menyemangati puluhan siswa SD yang ikut manasik haji kala itu. Tapi bukankah
masyarakat kita suka cerita-cerita seperti itu?
Berdasar
beberapa alasan itulah, Anda tak perlu ‘alergi’ lagi menggunakan kata labbaik dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih
lagi ‘memusuhi’ orang-orang yang menggunakan kata labbaik untuk mengenang syahidnya Al Husain. Yang menjawab panggilan
Al Husain itu sebenarnya sedang ‘menebus dosa’ mereka sendiri. Mereka tak ada
saat Al Husain menyeru di ujung hidupnya, ‘hal
min naashirin yanshuruniy?’, ‘adakah penolong yang mau menolongku?’, mereka,
manusia yang penuh dosa itu menjawab pilu ‘labbaika
ya husain’, ‘kami selalu bersedia menaati dan memenuhi panggilanmu’.
Tentu
saja tidak hanya berakhir di sini. Labbaika
ya Husain itu bukan sekedar seruan spiritualisme, dia juga merupakan seruan
perlawanan. Seruan itu bukan hanya warisan ruhani masa lalu, tetapi juga
harapan di masa yang akan datang. Komitmen untuk melanjutkan apa yang dilakukan
Al Husain waktu itu: melawan penindasan dan ketidakadilan!
Karenanya,
hari ini, dengan kesadaran sejarah tentang Al Husain ini, sudah seharusnya kita
juga menyeru: labbaika ya salim kancil! labbaika
ya munir!