Kamis, 17 September 2015

Tentang Buku dan Rasa Kehilangan

Kisah seorang pemburu buku yang kemudian melepas buku-buku yang diburunya.

Dua kardus penuh buku sudah terbungkus rapi. Keesokan hari buku-buku yang ada dalam kardus ini akan berpindah tangan. Saya sudah berjanji dengan sebuah perpustakaan yang berkantor di area Mega Kuningan, Jakarta untuk menyerahkan dua kardus ini. Ini bukan hibah, tapi perpustakaan milik seorang petinggi partai bersedia membayar buku-buku yang saya tawarkan via seorang teman yang aktif sebagai politisi partai tersebut.

Dada terasa sesak mengingat hari itu. Mata sembab memandangi rak buku yang mulai kosong. Satu per satu, buku yang saya kumpulkan bertahun-tahun itu akan memiliki ‘tuan’ yang baru. Ratusan buku ini sempat membuat saya ‘nampang’ di dua buah koran nasional sebagai kolektor buku-buku kiri yang langka. Dua kardus ini hanya rangkaian dari proses kehilangan ratusan buku-buku langka itu. Sebelumnya, sudah beberapa kolektor menghubungi saya secara khusus untuk melepas beberapa judul buku kiri langka yang mereka tidak punya.

**
Namanya Pieters Siahaan. Usianya sekitar 50 tahunan saya kira. Di sebuah siang yang terik, waktu saya iseng main ke loakan buku Terminal Bus Senen menyalami saya dan kemudian menawarkan beberapa buku tua. Seingat saya, dia menawarkan buku-buku Bung Karno. Salah satunya berjudul Bung Karno Di hadapan Pengadilan Kolonial karya H.A. Notosoetardjo, terbitan tahun 1963. Waktu itu saya jawab, saya tidak terlalu suka dengan Bung Karno. “Saya mencari buku-buku Pramoedya Anantar Toer, Bang.”

Mendengar pertanyaan itu, Bang Siahaan –sapaan akrab saya kepada dia- kemudian mengajak ke kiosnya yang terletak agak masuk ke area pasar. Melewati lorong-lorong sempit yang terkadang terlihat juga gerombolan tikus segede anak kucing berlarian, berjejer beberapa kios buku yang menjual aneka jenis buku, dari buku yasinan hingga buku-buku pelajaran. Saya juga menjumpai distributor sebuah jenis komik yang bikin merinding waktu saya baca saat sekolah dasar dulu, yaitu komik surga neraka. Komik yang memuat gambar-gambar sadis tentang hukuman orang-orang yang berada di neraka. Komik ini penanda, bahwa sampai hari ini, agama masih diajarkan dengan ketakutan-ketakutan di negeri ini.

Di kios Bang Siahaan yang berukuran 1,5 x 2,5 m ini saya menemukan buku Boris Pasternak yang berjudul Safe Conduct. Bukunya tampak lusuh. Bahkan di pojok bawah sudah grepes dimakan tikus. Tapi waktu saya buka halaman pertamanya, ternyata dalam buku terbitan The New American Library tersebut, terdapat tulisan serta tanda tangan Soe Hok Gie dengan tinta biru yang mulai memudar: Djakarta 29 Nopember 1960. Soe Hok Gie. Ditukar dng (dengan) kartjis sandiwara dari Irawan. Tangan saya agak gemetar memegang buku itu. Soe Hok Gie adalah salah satu tokoh kesukaan saya. Buku-bukunya juga lengkap saya koleksi. Dan sekarang saya melihat buku yang pernah dipegang langsung sama dia. Buru-buru saya tebus buku itu ke Bang Siahaan. “25 ribu saja,” kata Bang Siahaan yang saya sambut dengan suka cita.

Bang Siahaan ini mungkin satu-satunya pedagang buku di Terminal Senen yang paham tentang buku-buku yang dijualnya. Mungkin karena dia bekas seorang pendeta, jadi dia juga gemar membaca. Terutama sastra.

**
Sampai sekarang, saya belum pernah ketemu dengan pria ini. Saya hanya mengenal namanya sebagai salah satu penjual online di media sosial. Marsum namanya. Tinggal di Tangerang. Dari dia juga saya dapat banyak buku-buku tua. Dua yang paling fenomenal adalah buku Sosialisme Indonesia karya D.N Aidit dan buku Bung Hatta- Mengabdi pada Tjita-tdjita dan Perdjoangan Bangsa. Dua buku tersebut ada tanda tangan D.N Aidit dan Bung Hatta. Dua buku itu saya tebus 4,5 juta waktu itu.

**
Tentang rasa ‘gila buku’, saya pernah mengalaminya. Laku dalam gila buku tentu saja berbeda dengan laku ketika kita hanya haus pengetahuan –penuh rasionalitas, produktivitas, dan efisiensi-. Orang yang haus pengetahuan akan mengatakan, buku itu untuk dibaca, bukan ditimbun. Menurut saya, laku penggila buku adalah sebuah dolan. Sebuah kehendak untuk bermain. Berjalan di jalan yang berkelok-kelok dan sambung menyambung. Tempat kita iseng, main-main, atau mengikuti rasa ingin tahu. Menyusuri laku gila buku tidak dituntut untuk menghasilkan apa-apa, tanpa didesak waktu, tapi asyik mengamat-amati seraya terus-menerus mengalihkan fokus.

Tentang orang-orang yang bisa disebut sebagai ‘penggila buku’, banyak kisah dan adegan-adegan yang tak baru. Lazimnya, mereka akan bercerita, bahwa rasa cinta berlebihan kepada buku akibat bersinggungan dengan buku sejak masih kecil. Terutama karena para orang tua dan kakek nenek mereka juga seorang penggila buku. Saya tak seberuntung mereka yang mewarisi ‘gen’ sekaligus buku-buku dari para orang tua dan kakek neneknya.

Waktu saya kecil, tak ada buku di rumah (di luar buku-buku pelajaran sekolah). Hanya ada potongan-potongan kain yang siap dijahit Ibu dan perkakas-perkakas rumah tangga yang siap dijajakan Bapak keliling kampung. Ibu dan Bapak yang hanya lulusan sekolah dasar, mungkin merasa, buku adalah sesuatu yang asing. Tapi kondisi itu berubah ketika Ibu bekerja sebagai penjahit di sebuah konveksi milik seorang dosen yang memiliki persewaan komik. Saat itu saya duduk kelas 5 SD. Akhirnya tiap akhir pekan, saya mempunyai kemewahan untuk membaca komik.

Hingga puluhan tahun kemudian, saya menjadi ‘penggila buku’. Menimbun ribuan buku hanya untuk klangenan. Ceritanya dimulai saat saya mulai kuliah di Kota Malang. Tahun 1996, setahun sebelum Orde Baru jatuh, saya sempat datang ke sebuah pameran buku di kampus. Saya melihat 4 buku bercover putih dengan hanya judul dan nama pengarangnya saja sebagai hiasan sampul. Saya tidak tahu nama pengarang itu. 4 buku tersebut dijual 100 ribu. Untuk menebusnya, saya terpaksa menjual sepeda gunung . Saya tak bisa berhenti membaca 4 buku itu. Dalam waktu beberapa hari, 4 buku itu saya sudah selesaikan. Saya semakin bertanya-tanya, siapa itu Pramoedya Ananta Toer? Bagaimana dia bisa menulis tetralogi buku Pulau Buru dengan sangat bagus?  Ya, agak telat. Saya baru tahu nama Pramoedya Ananta Toer waktu kuliah.

**
Saya tak begitu ingat harinya, tapi kejadiannya sudah dua tahun yang lalu. Sebuah SMS masuk ke telepon genggam saya, dari Bulik di Solo. Isinya singkat, “Ri, mantuk-o, bapakmu gerah (Pulanglah, Bapakmu sakit).”

Kabar sakitnya Bapak yang datang dari Bulik, bukan dari Ibu saya ini menjadikan saya curiga, apakah sakitnya Bapak serius hingga Ibu saya tak kuasa memberi kabar sendiri. Saya memang tidak terlalu akrab dengan Bapak. Tak ada yang banyak bisa saya ceritakan. Yang saya tahu, Bapak saya cuma tekun dengan pekerjaannya sebagai mendring, sebutan tukang kredit keliling di Solo. Meski jarang ngobrol, melihat Bapak terkulai lemas dengan vonis gagal ginjal di rumah sakit Jebres, hati saya luluh lantak juga. Seminggu sekali Bapak harus cuci darah. Butuh biaya yang tidak sedikit, pikir saya seketika.

**
Dua kardus buku yang saya janjikan ke sebuah perpustakaan milik salah seorang petinggi partai itu saya bawa sendiri naik taksi ke Mega Kuningan, Jakarta. Ini buku-buku terakhir yang saya miliki. Berisi ratusan buku karya Pramoedya Ananta Toer, dari cetakan pertama hingga yang terbaru. Sebelumnya, puluhan buku lawas karya D.N Aidit, Njoto, dan Tan Malaka sudah saya lepas ke beberapa kolektor. Dari melepas buku-buku langka yang saya buru bertahun-tahun itu, saya mendapatkan 20 jutaan rupiah. Bukan harga terbaik, tetapi saya pikir cukup untuk merawat Bapak.

**
Dua tahun sudah Bapak pergi. Saya bahagia bisa merawatnya di ujung akhir hidupnya di dunia dengan buku-buku yang saya miliki. Pada akhirnya, di ujung jalan, kita akan tahu, tiap apa yang kita kehendakkan selalu serba mungkin, labil, dan rentan. Tiap semua hal yang kita kerjakan senantiasa bersifat coba-coba; tak ada yang untuk selama-lamanya. Dari peristiwa ini, saya belajar untuk tidak menggilai yang fana. Tapi ternyata susah sekali. Rak buku saya yang sempat kosong beberapa bulan, kini, mulai penuh lagi. Tapi tidak dengan buku-buku kiri. Saya mulai menimbun buku-buku sufi.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar