Mohamed Arkoun, seorang pemikir Islam dari Aljazair yang berkarir di Perancis, dalam bukunya ‘Nalar Islami dan Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan Jalan Baru’ terbitan INIS, 1994, memberikan testimoni tentang Islam yang hidup di Indonesia, “Saya dapat mengukur selama kunjungan singkat saya ke Yogyakarta pada 1990, betapa kayanya dari segi budaya dan betapa aslinya Islam di Indonesia dibanding dengan Islam Arab.”
Tentu, testimoni ini tidak bermaksud untuk membuat definisi baru tentang Islam. Karena, seperti kita yakini bersama, Islam sesungguhnya hanya satu, tetapi penampilannya bisa bermacam-macam dan mencerminkan karakter-karakter tertentu. Jika akhir-akhir ini ada yang menyerukan tentang Islam Nusantara, saya yakin yang dimaksud adalah Islam yang satu itu, hanya kemudian telah dikemas secara kreatif yang dipadu dengan tradisi sehingga menunjukkan daya kreativitas, seperti adanya peringatan Maulid Nabi Saw, halal bi halal, ketupat, beduk, tahlilan, yasinan, istighatsah, manaqib, tawasul, pembacaan dhiba’, pembacaan barjanji, pembacaan usholli sebelum shalat, pembacaan sayyidina dalam shalat dan khotbah, pembacaan qunut pada shalat Subuh, pembacaan talqin pada jenazah yang baru saja dikubur, selamatan atas kematian seseorang, haul, pakaian sarung dan songkok saat beribadah, dan masih banyak lagi lainnya.
Penampilan-penampilan Islam demikian inilah yang mengundang tuduhan dari beberapa kelompok, khususnya Wahabi, bahwa Islam Nusantara adalah Islam sinkretisme, Islam yang bercampur dengan paham agama lain, Islam yang tidak murni atau Islam yang ternoda. Mereka berpandangan bahwa tidak boleh ada pengurangan maupun penambahan dalam beribadah (la nuqshan wala ziyadah fi al ibadah). Dalam masalah ibadah, kita hanya menerima satu paket dari Allah melalui Nabi. Karena itu, mereka menganggap bahwa banyak unsur takhayul, bid’ah, dan khurafat serta syirik di kalangan Islam Nusantara.
Perlu dipahami, penampilan Islam Nusantara yang penuh warna tradisi ini tidak akan mengubah Islam, tetapi menerjemahkan Islam dalam bahasa kebudayaan Indonesia. Suatu bahasa yang mengakrabkan ajaran-ajaran agama dengan masyarakat kelas bawah, sebagai lapisan yang selama ini dibela Islam itu sendiri sebagaimana digagas oleh Hassan Hanafi melalui gerakan Kiri Islam (Al Yasar Al Islami).
Kebiasaan mentransformasikan ajaran Islam ke dalam konteks budaya Indonesia menjadikan Islam Nusantara kaya pemahaman, pemaknaan, penafsiran, dan penampilan. Hal ini sangat berbeda dengan Islam Arab Saudi yang sangat rigid terhadap tradisi, budaya, maupun perkembangan zaman. Sebaliknya, Islam Nusantara justru menjadi Islam yang luwes dan fleksibel, baik terhadap tradisi, budaya, maupun perkembangan zaman, sepanjang hal-hal tersebut tidak mengancam dan merusak substansi Islam itu sendiri, lalu dibutuhkan filter dalam bersikap akomodatif dan selektif.
Pada bagian lain, kebiasaan tersebut sekaligus melatih umat Islam Indonesia menjadi masyarakat yang terbuka terhadap pemikiran dari luar komunitas maupun mazhab-nya. Arkoun menilai bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia kontemporer lebih dapat menerima pemikiran islami yang kritis, pembaharu, dan berkembang dibanding dengan banyak masyarakat Islam lainnya (Timur Tengah) yang terlalu didominasi oleh desakan perjuangan politik. Sementara itu, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang dibangun berdasarkan pendekatan budaya (cultural approach) sehingga sejak awal mencerminkan sikap inklusif.
Inklusivisme sikap bangsa Indonesia terhadap arus dari luar inilah yang memberikan kemungkinan potensi masyarakat Indonesia untuk bersikap demokratis. Mereka terbiasa dihadapkan pada berbagai aliran, mazhab, maupun pemikiran sehingga dapat memupuk integritas kepribadian mereka menjadi kepribadian yang demokratis. Fazlur Rahman menegaskan, “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berwatak demokratis. Karena itu, hanya penafsiran Islam yang betul-betul demokratis-lah yang akan berhasil di sana.”
Apa yang ditegaskan Fazlur Rahman menjadi sebuah harapan bagi masa depan Islam Nusantara, sekaligus kabar buruk bagi kelompok-kelompok yang ingin meng-impor konflik sektarian di negara ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar