berpikir kreatif mengijinkan analogi bebas, sekalipun nampak tidak berhubungan. kesamaannya berada pada makna simbolisnya. maka ada istilah "terinspirasi", yang bekerja di wilayah yang tak tampak. aku menyebutnya, rububiyah.
pada titik ini, tagore adalah seorang yang menginspirasi sekaligus sebagai yang terinspirasi dari yang Satu, yang Tak Terhingga. golak pemikiran tagore berangkat dari kemanusiaan yang paling dasar. ya. tagore, saya kira, adalah seorang humanis. yang menempatkan keseimbangan di atas carut marut dunia fana. tengok ini:
kebenaran dari kehidupan kita tergantung sikap pikiran kita kepadanya -suatu sikap yang dibentuk oleh kebiasaan kita berhubungan dengannya menurut keadaan khas lingkungan-lingkungan kita dan perangai-perangai kita.
lihat. betapa tagore sungguh santun menempatkan kebenaran menjadi sebuah sintesis dari tesis. entah. keseimbangan apa yang diharapkan tagore dalam hidup ini. apakah tagore juga penganut paham wahdatul wujud? dalam setiap tulisannya, tagore sering sekali merujuk pada Yang Tak Terbatas. bahkan tagore ingin menyatukan Yang Tak Terbatas ini dengan diri. dengan demikian sebuah kesatuan menjadi kreatif.
saya jadi ingat al hallaj yang lantang berkata, ana 'l hakk. akulah kenyataan tertinggi. bedanya, tagore ingin mengupayakan Ketunggalan yang mawujud dalam dunia nyata. dia mencoba menegasikan sebuah ayat misterius, surat 28:28: kullu sai'in halikun illa waghahu" (segala sesuatu sirna kecuali wajahNya). keanekaan dunia, bagi tagore, nampak hanya semu saja. bila kita menyelami dan menerobos kulit itu, maka selebung semu itu menjadi kabur lalu tampaklah dasar hakiki yang menopang segala sesuatu yang ada. tampaklah bahwa Yang Tak Terhingga dan manusia itu identik sama. dengan kata lain, tagore ingin menjadikan yang mistis itu menjadi rasional. menjadi kreatif. kesatuan kreatif.
membaca Tagore, kita akan menemukan bahwa dalam Yang Tak Terhingga, kehidupan menjangkau dan melebur segala pertentangan. itulah arti siang menjadi malam dan sebagainya. siang dapat menjadi malam karena ada dasar yang sama. sedangkan siang dan malam hanya merupakan penampakan pada kulit. tagore menegaskan, barangsiapa mengetahui itu, dia sudah menemukan hidup yang tunggal dan Ada yang tunggal di bawah segala keanekaan. konsep ini dalam budaya jawa, dikenal dengan sebutan "jalma luwih", manusia sempurna, ubermensch.
jalma luwih sajati ning manungsweki / kang ampun tumekeng urip / urip ing Allah tangala / uripe datullah yekti / uripe jeneng ing suksma.
ia telah mencapai kehidupan, yaitu kehidupan Tuhan sendiri. yang hidupnya adalah dzat Tuhan sendiri. yang hidupnya ialah suksma lepas dari unsur kebendaan.
jadi, apa yang ingin disampaikan tagore adalah yang ada bukan badan jasmani yang dihidupi oleh jiwa sebagai prinsip kehidupan otonom. melainkan suatu badan rohani yang dihidupi oleh kehidupan ilahi yang meresapi jiwa-jiwa seluruhnya. orang barat menyebutnya spiritualism. tagore menyebutnya kesatuan kreatif. saya menyebutnya rububiyah.
selamat menikmati kebijaksanaan tertinggi ala tagore.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar