Kamis, 10 September 2015

Islam Nusantara (2)

Saya membayangkan, nantinya Islam Nusantara akan berkembang seperti Islam Syiah di Iran. Kita bisa melihat, Islam Syiah di Iran menjadi kekuatan yang fenomenal. Tidak hanya secara teologi tetapi juga menjangkau di semua bidang.
Islam Nusantara sudah seharusnya menghasilkan tradisi intelektual yang berkembang terus menerus. Islam Nusantara di abad ke-17 hingga ke-19 menghasilkan ulama pengarang yang sanggup menulis bukan saja dalam bahasa Melayu, melainkan juga dalam bahasa Arab dan Farsi, seperti Syaikh Hamzah Fansuri, Syaikh Syamsuddin Sumatrani, Syaikh Nuruddin Ar Raniri, Syaikh Burhanuddin, Syaikh Ismail bin Abdullah Al Asyi, Syaikh Jalaluddin bin Syaikh Arif Billah, Syaikh Muhammad bin Syaikh Khatib Langien, Syaikh Jamaluddin bin Syaikh Abdullah, Syaikh Nawawi Al Bantani, Syaikh Mahfudh Al Tarmidzi, dan lain-lain.
Sayang sekali, keberhasilan mereka tidak dilanjutkan di zaman ini. Sulit sekali sekarang menemukan kyai di Indonesia yang mau menulis karya ilmiah yang benar-benar serius seperti para pendahulunya itu. Mereka lebih tertarik dakwah secara lisan dan verbal daripada dakwah melalui tulisan, dan dalam banyak kasus lebih runyam lagi, mereka tertarik dalam dunia politik yang hitam. Para kyai lebih akrab dengan pejabat daripada kitab-kitab. Para kyai lebih giat dalam persoalan dukung mendukung calon bupati, gubernur, hingga presiden daripada melakukan perenungan secara mendalam.
Pada masa modern ini, kita sulit sekali menemukan seorang ulama sekaligus filosof dari Islam Nusantara, tetapi di kalangan Syiah pada abad ke-20 yang lalu telah melahirkan puluhan ulama sekaligus filosof, baik yang telah meninggal seperti Thabathaba’I dan Murtadha Muthahhari maupun yang masih hidup seperti Jalal Al Din Asythiyani dan Mehdi Hairi Yazdi, yang telah merespon tantangan filosof dan ideologis Barat dengan efektif.
Islam Nusantara sudah seharusnya menghasilkan dunia pendidikan yang maju. Dulu Mesir dikenal sebagai tempat pendidikan Islam paling maju, tapi kini Mesir luluh lantak karena konflik. Mesir hanya menang secara historis, tetapi kualitas sebenarnya terkalahkan Iran. Perpustakaan di Iran dimanfaatkan secara fungsional untuk pengembangan ilmu. Bahkan, perpustakaan masjid saja telah dijadikan kajian yang sangat serius. Hal ini sangat berbeda dengan perpustakaan masjid di Indonesia yang tidak lebih dari sekedar pajangan literatur.
Islam Nusantara sudah sewajibnya berbanding lurus dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat Iran dengan Islam Syiah-nya telah menunjukkan kedigdayaan teknologi. Meski dapat embargo dari dunia internasional, mereka mempunyai Jamaran, kapal perang buatan putra Iran sendiri. Iran telah berhasil menciptakan sendiri pesawat tempur yang diberi nama Azarakhsh, pesawat pemburu canggih bernama Saeqeh. Mereka mempunyai rudal Shahab, peluru kendali Fajr, Kowsar, dan Fateh. Potensi ini menunjukkan bahwa Irang memiliki kekuaran pertahanan yang tangguh sekali. Tak heran, dunia barat dibuat ketar-ketir karenanya.
Pada bagian lain, Iran juga berhasil menciptakan dan mengembangkan teknologi antariksa, otomotif, dan kedokteran. Iran mempunyai stasiun peluncuran antariksa dan peluncuran roket pembawa satelit Safir. Produk otomotif Iran telah diekspor ke berbagai negara. Iran juga telah menciptakan dan mengembangkan teknologi nano untuk keperluan kedokteran, pertanian, industr, dan lain-lain. Lagi pula, Iran telah berhasil mengembangkan teknologi di bidang Stem Cell untuk menyembuhkan beragam penyakit akut. Iran juga berhasil membuat obat IMOD untuk fungsi ketahanan tubuh melawan virus HIV AIDS.
Hanya saja, Iran sedang dikepung oleh negara-negara maju dan sekutunya dengan melakukan provokasi dan membangun citra untuk menjatuhkan reputasi Iran dengan berbagai alasan yang direkayasa.
Akhirnya, apa yang telah dihasilkan Islam Nusantara di republik ini? Apa mau dikata, kita masih sibuk berdebat tentang pelaksanaan shalat Idul Fitri, tentang tahlilan, yasinan, dan kirim Al Fatiha kepada yang telah mati. Ya, kita masih sibuk memperdebatkan maulid Nabi dan pembacaan shalawat. Dan sementara sebagian yang lain malah siap-siap meng-impor konflik intoleransi. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar