Saya membayangkan, nantinya Islam Nusantara akan berkembang
seperti Islam Syiah di Iran. Kita bisa melihat, Islam Syiah di Iran menjadi
kekuatan yang fenomenal. Tidak hanya secara teologi tetapi juga menjangkau di
semua bidang.
Islam Nusantara
sudah seharusnya menghasilkan tradisi intelektual yang berkembang terus
menerus. Islam Nusantara di abad ke-17 hingga ke-19 menghasilkan ulama
pengarang yang sanggup menulis bukan saja dalam bahasa Melayu, melainkan juga
dalam bahasa Arab dan Farsi, seperti Syaikh Hamzah Fansuri, Syaikh Syamsuddin
Sumatrani, Syaikh Nuruddin Ar Raniri, Syaikh Burhanuddin, Syaikh Ismail bin
Abdullah Al Asyi, Syaikh Jalaluddin bin Syaikh Arif Billah, Syaikh Muhammad bin
Syaikh Khatib Langien, Syaikh Jamaluddin bin Syaikh Abdullah, Syaikh Nawawi Al
Bantani, Syaikh Mahfudh Al Tarmidzi, dan lain-lain.
Sayang sekali,
keberhasilan mereka tidak dilanjutkan di zaman ini. Sulit sekali sekarang
menemukan kyai di Indonesia yang mau menulis karya ilmiah yang benar-benar serius
seperti para pendahulunya itu. Mereka lebih tertarik dakwah secara lisan dan
verbal daripada dakwah melalui tulisan, dan dalam banyak kasus lebih runyam
lagi, mereka tertarik dalam dunia politik yang hitam. Para kyai lebih akrab
dengan pejabat daripada kitab-kitab. Para kyai lebih giat dalam persoalan
dukung mendukung calon bupati, gubernur, hingga presiden daripada melakukan
perenungan secara mendalam.
Pada masa modern
ini, kita sulit sekali menemukan seorang ulama sekaligus filosof dari Islam
Nusantara, tetapi di kalangan Syiah pada abad ke-20 yang lalu telah melahirkan
puluhan ulama sekaligus filosof, baik yang telah meninggal seperti Thabathaba’I
dan Murtadha Muthahhari maupun yang masih hidup seperti Jalal Al Din Asythiyani
dan Mehdi Hairi Yazdi, yang telah merespon tantangan filosof dan ideologis
Barat dengan efektif.
Islam Nusantara
sudah seharusnya menghasilkan dunia pendidikan yang maju. Dulu Mesir dikenal
sebagai tempat pendidikan Islam paling maju, tapi kini Mesir luluh lantak
karena konflik. Mesir hanya menang secara historis, tetapi kualitas sebenarnya
terkalahkan Iran. Perpustakaan di Iran dimanfaatkan secara fungsional untuk
pengembangan ilmu. Bahkan, perpustakaan masjid saja telah dijadikan kajian yang
sangat serius. Hal ini sangat berbeda dengan perpustakaan masjid di Indonesia
yang tidak lebih dari sekedar pajangan literatur.
Islam Nusantara
sudah sewajibnya berbanding lurus dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Masyarakat Iran dengan Islam Syiah-nya telah menunjukkan kedigdayaan
teknologi. Meski dapat embargo dari dunia internasional, mereka mempunyai
Jamaran, kapal perang buatan putra Iran sendiri. Iran telah berhasil
menciptakan sendiri pesawat tempur yang diberi nama Azarakhsh, pesawat pemburu
canggih bernama Saeqeh.
Mereka mempunyai rudal Shahab,
peluru kendali Fajr, Kowsar, dan Fateh.
Potensi ini menunjukkan bahwa Irang memiliki kekuaran pertahanan yang tangguh
sekali. Tak heran, dunia barat dibuat ketar-ketir karenanya.
Pada bagian lain,
Iran juga berhasil menciptakan dan mengembangkan teknologi antariksa, otomotif,
dan kedokteran. Iran mempunyai stasiun peluncuran antariksa dan peluncuran
roket pembawa satelit Safir.
Produk otomotif Iran telah diekspor ke berbagai negara. Iran juga telah
menciptakan dan mengembangkan teknologi nano untuk keperluan kedokteran,
pertanian, industr, dan lain-lain. Lagi pula, Iran telah berhasil mengembangkan
teknologi di bidang Stem Cell untuk menyembuhkan beragam penyakit
akut. Iran juga berhasil membuat obat IMOD untuk fungsi ketahanan tubuh melawan
virus HIV AIDS.
Hanya saja, Iran sedang dikepung oleh negara-negara maju dan
sekutunya dengan melakukan provokasi dan membangun citra untuk menjatuhkan
reputasi Iran dengan berbagai alasan yang direkayasa.
Akhirnya, apa yang telah dihasilkan Islam Nusantara di republik
ini? Apa mau dikata, kita masih sibuk berdebat tentang pelaksanaan shalat Idul
Fitri, tentang tahlilan, yasinan, dan kirim Al Fatiha kepada yang telah mati.
Ya, kita masih sibuk memperdebatkan maulid Nabi dan pembacaan shalawat. Dan
sementara sebagian yang lain malah siap-siap meng-impor konflik
intoleransi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar